Bab 1. Problematika internal aktivis dakwah
A. Gejolak Kejiwaan
Sebagai manusia biasa, setiap aktivis dakwah memiliki peluang untuk mengalami berbagai gejolak ini bisa berdampak negatif dalam kegiatan dakwah, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menghancurkan citra aktivis dakwah itu sendiri.
1. Gejolak syahwat
Islam datang tidak dalam rangka membunuh potensi fithriyah manusia, akan tetapi mengarahkan potensi tersebut sesuai dengan syariat. Tidak ada ajaran kerahiban (memujang) dalam agama islam, sebab bertentangan dengan fitrah manusia yg normal. Kenersihan hati mutlak diperlukan bagi seorang aktivis dakwah dan menikah adalah jalan yg sangat manusiawi. Selebihnya, puasa dituntunkan kepada para pemuda yg belum mampu menikah, untuk meredakan gejolak syahwat di saat usia muda.
2. Gejolak Amarah
Kadang-kadang, gejolak kejiwaan yg mucul pada diri aktivis dakwah dalam melihat suatu keadaan, baik di medan dakwab maupun pada penataan gerak dakwah itu, membuka peluang ke arah terjadinya fitnah di kalangan muslim sendiri. Apalagi gejolak ini tak segeradiseleaaikan, bisa menimbulkan kerawanan hubungan.
Sedemikian pentingnua menjaga orisinalitas dakwah, sehingga setiap gejolak yg muncul di kalangan para aktifis dakwah harus segera diselesaikan. Semuanya untuk menjaga keberlangsungan gerakan dakwah itu sndiru.
B. Ketidakseimbangan aktivis
Ada bebetapa bentuj ketidakseimbangan yg bisa terjadi dalam kehidupan aktivis dakwah, diantaranya:
1. Ketidakseimbangan antara aktivutas ruhiyah dengan aktivitas lapangan
Aktivitas ruhiyah sangat vital bagi aktivis, karena itulah bekal yg sangat utama bagi perjalanan dakwah. Realitas di medan dakwah telah mengajarkan bahwa mereka yg hanya berbekal semangat saja tanpa disertai dengan aktivitas pembinaan ruhiyab, cenderung tak cenderung bertahan lama terlibat dalam gerakan dakwah. Mereka akan cepat dihinggapi kelelahan disebabkan banyaknya aktivitas lapangan. Mereka disibukan olrh pekerjaan melayani umat, sibuk dengan berbagai macam program organisatoris, tetapi dirinya sensiri tak dilayani secara proposional.
2. Ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga
Sesibuk apapun kegiatan para aktivis di luar rumah, tidak boleh mengabaikan dakwah di dalam rumah mereka. Apabila gejala ketidakseimbangan ini terjadi, akan muncul korban atas nama dakwah yg terdiri dari sumai atau istri dan anak anak. Gerakan dakwah tidak pernah memilah antara urgensi dakwah di dalam dan di luar rumah tangga. Seorang istri yg mengurua aktivitas kerumahtanggan adalah dakwah, sebagaimana seorang suami yg tetlibat aktiv dalam perbaikan masyarakat.
3 ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dan organisasi
Ketidakaeimbangan seperti inu akan merugikan diri sendiei dan orang lain yang menjadi tanggungjawabnya. Untuk itulaj setiap aktivis harus pandai mengelola kegiatan agar sellu seimbang antara penunaian kewajiban pribadi dengan organisasi.
4. Ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi
amal tarbawi adalah pondasi bagi seluruh aktivitas kehidupan, termasuj di dalamnya amal siyasi. Amal tarbawi harus dijaga perhatian dan kesinambungan dalam meletakan kedua amal ini akan bisa berdampak merusak tatanan dakwah.
5. Ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM
Ketidakseimbangan dalam memberikan perhatian terhadap aspek kualitas dan kuantitas akan menyebabkan gerakan dakwah tidak berjalan dengan optimal. Ada sisi yg kosong dan cenderung membahayakan saat dibiarkan tanpa perbaikan. Baik kualitas maupun kuantotas sangat diperlukan gunu mencapai kemenangan dakwah Islam.
6. Penyebab ketidakseimbangan
Jika kita lihat diantara penyebab ketidakseimbangan para aktivis dakwah adalah hal-hal berikut:
A. Pola kerja single fighter
B. Lemahnya perassan tanggung jawab
C. Kesalahan Cara pandang (mana yg prioritas)
D. Salah dalam membuat perhitungan
E. Pembagian tugas yg buruk
7. Jalan keluar ruhaniyah
Dengan auasana ruhiyah yg mantap, para aktivis akan daoat menjaga
BAB II Problematika Eksternal Dakwah
Problematika eksternal dakwah yang menjadi bahaya besar meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral dan problematika sistemik. Yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktifis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-jani-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah!
Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyahgunaan obat-obatan, penyelewenangan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.
BAB III Daya Tahan di Medan Dakwah
Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktifis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.
Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.
Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktifitas selalu berorientasi kepada Allah dan berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.
Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu.
Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktifis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktifis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.
Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur'an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana'ah tanzhimiyah).
BAB IV Yang Tegar di Jalan Dakwah
Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah. Diantara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.
